Mendadak memperkosa

Jam menunjukkan pukul 12 siang ketika pesawat yang aku tumpangi dari Jogja mendarat di Bandara Sukarno Hatta. Tugas kantor yang mendadak memaksaku mengakhiri liburan yang sudah aku rancang lama. Istriku sempat protes dibuatnya. Kami memang baru semalam di Jogja, di rumah mertuaku. Tapi karena ada masalah di kantor cabang Palembang Bosku memintaku dengan sangat untuk sudah ada di sana besok hari Selasa sore. Karena harus menyiapkan segala sesuatunya di kantor, mau tidak mau Senin pagi ini aku balik ke Jakarta.
Ketika aku masuki komplek perumahanku, jam tanganku menunjukan angka 14.25. Udara terasa dingin, langit mendung. Ah sebentar lagi bakalan hujan. Untung aku tadi sempatkan makan siang di jalan.
Tidak aku lihat kegiatan diseputar rumahku. Yah mendung yang menggantung itu mungkin memaksa orang untuk tidak berada di luar rumah.
Setelah mengunci rumah, aku masuk ke kamarku dan mengganti melepas pakaianku dan menggantinya hanya dengan celana pendek tanpa celana dalam. Aku memang berniat mandi, tapi tidak sekarang. Aku ingin mempelajari permasalahan yang ada di kantor Palembang yang sudah di email bosku.
Belum lagi aku menyalakan komputer aku mendengar suar perempuan bersenandung dari kamar mandi. Ada perasaan seram bercampur penasaran. Ah mana mungkin sesiang ini ada hantu. Dan sepanjang sejarah aku menempati rumahku ini belum pernah aku dengar ada cerit seram, bahkan dilingkungan perumahan ini. Tapi aku harus memastikannya sebenarnya siapa orang yang bernyanyi itu.
Akupun segera ke kamar mandi yang memang tidak berpintu karen memang letaknya ada didalam kamar tidur. Aku longokkan kepala untuk melihat ada siapa di kamar mandi.
Aku tersentak kaget karena ada seorang perempuan yang sedang mandi di kamar mandiku, ia tengah asik berendam di bathub sambil berdendang dengan mata terpejam. Aku dapat melihat jelas tubuh telanjang itu karena tirai plastik yang ada disana tidak ditutup. Kulihat kedua payudaranya dan belahan vaginanya dan sejumput rumput hitam diatas vaginanya. Cukup lama aku melihat pemandangan indah itu, lebih dari cukup untuk membangunkan adikku.
Merasa hadirinya orang lain di kamar mandi itu, perempuan itu membuka matanya. Melihatku ada di pintu kamar mandi, perempuan itu segera tengkurap di bathub sambil berkata “Mas mau ikutan mandi yach aaaiiiiii.”
Perbuatannya membalikkan badannya malah memperlihatkan pantatnya yang indah kepadaku. Aku mulai pusing dibuatnya. Aku segera meninggalkan kamar mandi sambil berkata “Eeeeehhh mbak Dilla maaf..mbak maaf..”
Aku heran kenapa mbak Dilla mandi di kamar mandiku? Memang sudah jadi kebiasaanku menitipkan kunci rumah ke Yati adiknya. Istriku menyerahkan urusan menghidupkan dan mematikan lampu pada Yati ketika kami bepergian.
Tak lama kemudian aku lihat mbak Dilla keluar dari kamar mandi hanya dililit handuk ditubuhnya. Waajahnya bersemu merah pertanda malu karena tubuhnya yang bugil terlihat olehku.
“Mas Hendra, maaf yach aku lancang memakai kamar mandi Mas tanpa permisi. Yati pergi ke Sukabumi tadi pagi. Tadi saya nggantiin Yati mau menyalakan lampu karena hari gelap. Melihat kamar mandi mas yang bagus tadi pagi, saya tergoda untuk numpang mandi.”
Kulihat tubuhnya mbak Dilla yang hanya berbalutkan handuk, dan tetesan air masih ada yang menempel di tubuhnya serta tubuhnya yang wangi sabun, membuat adik kecilku yang sudah mulai terkulai kembali tegak. Mbak Dilla yang sedang menunduk itu melihat celana boxerku yang menonjol akibat bangunnya adikku semakin tersipu malu, meski matanya tepat menatap kesana. Diapun menjadi serba salah, mau mengangkat kepalanya dia malu untuk menatap mataku, mau tunduk diapun mlau melihat tonjolan di balik celana boxerku. Aku bisa menebak ada rasa penasaran pada diri mbak Dilla menyaksikan tonjolan di celanaku, dengan melihat tonjolan di celana boxerku itu dia sudah dapat menduga kalau adik kecilk mempunyai ukuran di atas rata-rata.
“Ach..gak apa-apa mbak. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah melihat tubuh mbak Dilla semua dech.” sahutku sambil tersenyum membayangkan bentuk tubuhnya yang lumayan seksi dan kedua payudaranya yang indah.
“Ach..mas Hendra sich tidak salah. Kan itu kamar mandi mas Hendra. Soal…soal.. tubuhku mas Hendra janji yach jangan bilang-bilang sama orang lain apalagi sama suamiku yach mas Hen…Janji yach” mbak Dilla memohon-mohon sambil tetap menundukkan kepalanya dengan mata tanpa berkedip kearah boxerku yang menonjol.
“Oooohhh..tenang saja aku gak akan cerita kok sama siapapun..tapi mbak Dilla kan tahu biasanya kalau orang meminta sesuatu pasti ada imbalannya dong,” jawabku tersenyum.
“Looohhh kok pake imbalan mas Hen, aku kan minta tolong….” katanya lagi sambil tetap menundukkan kepalanya tidak berani menatap mataku.
“Baiklah aku gak minta imbalan, tapi aku minta tolong sama mbak Dilla bolehkan, jadi kita sama-sama saling tolong menolong,” kataku lagi.
“Eehhh..minta tolong apa?…kalau bisa aku pasti tolongin dech,” katanya mulai sedikit tenang.
“Bener nich mbak Dilla mau nolongin aku?” tanyaku.
“Kalau aku bisa dan mampu pasti aku akan tolongin,” jawabnya lagi menegaskan
“Kalau soal mampu dan bisa, pastilah mbak Dilla bisa dan mampu menolongku,” kataku lagi sambil menongolkan adik kecilku.
“Mbak Dilla tolongin aku menidurkan adik kecilku ini” lanjutku.
“Eeehhh… gila mas Hen. Gak mungkin aku gak mungkin melakukan itu, aku ini sudah bersuami. Jangan gila mas Hen. Aku gak mau. Gak aku gak mau!” katanya lagi menolak permintaanku dengan kepala masih menunduk dan menggeleng-geleng, tapi bola matanya tidak berkedip menatap celana boxerku.
Dilla tanpa berkedip menyaksikan kemaluanku yang sudah berdiri dengan gagahnya setelah celana boxerku aku turunkan, dia terhenyak menyaksikan besar dan panjang kemaluanku, panjang kemaluan suaminya sekitar setengahnya lebih sedikit dari panjang kemaluanku ini, dia ngeri sendiri membayangkan vaginanya diterobos oleh kemaluanku, kulihat dia menelan air liurnya saat menyaksikan kemaluanku tersebut.
Dengan kemaluan yang mengacung keatas akupun menghampirinya yang saat itu masih terpaku melihat kemaluanku, kuraih kedua tangannya lalu kubimbing untuk menyentuh kemaluanku.
“Ayolah mbak, adikku ini bangun juga gara-gara melihat tubuh bugil mbak yang sedang mandi di kamar mandiku, jadi mbak juga harus menolong untuk menidurkannya lagi dengan tubuh mbak juga dong. Ayolah..mbak” bujukku sambil mengelus-eluskan kedua telapak tangannya di kemaluanku.
Aku merasakan halusnya telapak tangan mbak Dilla ini, Dilla sendiri merasakan betapa kekarnya dan kerasnya kemaluanku itu, dia berusaha menarik tangannya dari peganganku, sementara aku berusaha menahan tangannya agar tidak terlepas dari genggamanku dan dari batang kemaluanku.
“Jangan mas Hen . Jangan. Aku ini sudah bersuami, suamiku tahu aku ada di sini. Kalau dia kemari, kita bisa celaka mas Hen. Tolong mas Hen. Jangan. Lepaskan aku mas Hen. Aku takut nanti suamiku kesini.” katanya sambil berusaha melepaskan kedua tangannya.
Mbak Dilla terus meronta berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggamanku, tanpa dia sadari dengan bergeraknya tubuhnya yang hanya berbalutkan handuk itu, membuat lilitan handuk di tubuhnya perlahan-lahan mulai melonggar, dan tanpa menunggu lama tubuh telanjang kembali terpampang di hadapanku, mbak Dilla bertambah panik merasakan handuknya terlepas.
“Mas Hen..sudah…tolong sudah aaiiiiiiii..aduuh handukku…eeehhh jangan lihat mas Hen..Jangan mas Hen. Ampun..ampun..sudah..mas Hen. Nanti suamiku kesini mas Hen. Ingat mas Hen aku sudah bersuami” kata mbak Dilla saat mengetahui handuknya terlepas.
“Wow sekarang nampak jelas tubuhmu ini..hhhmmm. Aku jadi tambah bernafsu melihat tubuhmu yang montok ini. hhhhmmm Ayolah mbak tolongin aku” kataku.
Kutarik tangan mbak Dilla sehingga tubuh telanjangnya menempel dengan tubuhku, lalu kudekap tubuhnya, aku merasakan betapa empuk payudaranya menempel di dadaku, dan aku juga merasakan batang kemaluanku bersentuhan dengan rumput hitamnya, aku bertambah nafsu ingin segera memasukkan kemaluanku kedalam vaginanya, aku mulai menggesek-gesekkan batang kemaluanku ke tubuhnya, sementara tangan kananku mendekap erat punggungnya dan tangan kiriku meremas-remas bongkahan pantatnya.
“Jangan mas Hen jangan .aduuhh bajingan..kamu sudah tolong ampun aawww mas Hen. Jangan..Kamu jahat, bajingan kamu..brengsek. Aku..teriak nih.” kata mbak Dilla mengancam akan berteriak. Sementara aku dengar petir mulai terdengar.
“Teriak saja, siapa yang takut, hehehe…Orang akan lihat kamu yang menggodaku. Lihat aku masih berpakaian sementara kamu telanjang bulat..” kataku.
“Hehehehe payudaramu empuk sekali mbak, jembutnya banyak juga….hehehe geli nich gesekan sama punyaku..mbak gimana kalau gesekan sama punyamu mbak..pasti lebih enak” lanjutku menggoda.
“Hendra kamu bajingan. Brengsek. Kamu jahat. Jangan. Ssudah tolong jangan Hen..kasihanin..aku. Aaaauuwww stop Hendra” kata mbak Dilla sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pelukanku.
Tubuh mbak Dilla meronta-ronta, membuat payudaranya bergesekan terus dengan dadaku, sementara bagian bawahnya juga bergesekan terus dengan batang kemaluanku, nafsu birahiku semakin bertambah tinggi, kemaluanku semakin bertambah tegang, aku ingin segera melesakkan kemaluanku dalam vaginanya, ingin segera merasakan jepitan vaginanya di kemaluanku.
Dengan mudahnya tubuh mbak Dilla kuangkat, tubuhnya yang mungil dan tingginya yang hanya sedaguku memudahkan aku untuk mengangkatnya, dengan kedua tanganku yang mendekap erat di punggung dan pantatnya, tubuh mungil mbak Dillapun terangkat.
“Ampun Hen..ampun..jangan..Hen. Jangan Hen… Ingat Hen aku sudah punya suami dan aku sudah punya anak juga. Hen..kasihani aku. Hen..stop. Sadar..Hen” kata mbak Dilla kembali memohon sambil terus berusaha melepaskan diri dari dekapanku.
Aku tidak memperdulikan permintaan mbak Dilla itu, yang aku perdulikan adalah kemaluanku dapat masuk kedalam vaginanya, yang aku perdulikan adalah nafsu birahiku yang sudah sangat tinggi sekali, gak mungkin aku kocok sendiri sementara didepanku ada wanita yang sudah telanjang bulat. Tapi ketika aku melepaskan tangan kananku untuk mengarahkan kemaluanku ke vaginanya, mbah Dilla bisa melepaskan diri dan berlari ke luar kamar tidur. Aku kejar dia. Rasanya sangat tidak rela vagina yang sudah dihadapan itu terlepas tanpa aku masuki.
Tubuh bugil itu terjatuh ke sofa ketika menghidari tanganku yang hendak meraih tubuhnya. Segera aku tindih tubuh bugil yang tengah tengkurap. Tangan kiriku melorotkan celana boxerku sampai jatuh di kakiku, kemaluanku menempel di belahan pantat mbak Dilla, aku mulai menyelusupkan kemaluanku ke selangkangan mbak Dilla, mbak Dilla berusaha merapatkan kedua kakinya mencoba untuk menghalangi gerakan kemaluanku yang berusaha menyelinap ke sela-sela pahanya, aku tidak mau kalah gerak, dengan tangan kiriku kucoba membuka paha kirinya agar kemaluanku bisa menyelinap di sela-sela pahanya, usahaku akhirnya berhasil, kemaluanku terjepit diantara paha mbak Dilla, aku merasakan halusnya paha mbak Dilla di kemaluanku.
Usaha Mba Dilla menjauh dari kemaluanku justru menyempurnakan posisinya tengkurap di atas sofa dan dadanya berada di sandaran sofa. Tangan kiriku berusaha menyusup ke dadanya dan mulai meremas-remas payudara mbak Dilla bergantian kiri dan kanan, sementara dibawah aku berusaha untuk menggerakkan kemaluanku dalam jepitan pahanya.
Kedua paha mbak Dilla betul-betul dirapatkannya, sehingga membuatku susah untuk menggerakkan kemaluanku yang terjepit pahanya, aku berusaha untuk melebarkan pahanya mbak Dilla, kudorong dan kutekan punggungnya sehingga dadanya mbak Dilla menempel di sandaran sofa, dan kuselipkan salah satu lututku ketengah pahanya. Akhirnya kedua pahanya mulai terkuak, aku dengan leluasa menggerakkan kemaluanku maju-mundur di jepitan pahanya, tangan kananku menekan pundaknya mbak Dilla, mencoba menahan gerakan tubuhnya yang mencoba untuk bangkit dari tindihanku, sementara tangan kiriku mengarah keselangkangannya, tanganku mencari kelentitnya dan mulai menggesek-gesek kelentitnya itu dengan jari-jemariku.
“Oohhh mbak, enak ooohhh. Baru dijepit pahamu saja enak apalagi kalau dijepit memekmu… Mbak ooohhh aku jadi gak sabar pengen menyetubuhimu mbak.” aku melenguh merasakan enak dengan jepitan pahanya.
“Eeeghhh hheeehhhh .Hen..bajingan kamu hentikan. HHen jangan aaaaggghhh Hen bajingan kamu, setan kamu. Brengsek, kkurang ajar. Jjangan..Hen….Hentikan. Jangan ituku.. aaaacchhh..jangan hentikan tanganmu. Hen oooohhh…tolong Hen please.. hentikan Hen,” mbak Dilla memohon padaku untuk menghentikan aksiku.
Aku yang sudah dilanda tegangan tinggi ini sudah merasa kepalang tanggung, karena aku ingin merasakan memek tetanggaku ini, kemarin-kemarin kalau berpapasan dengan dia sedikitpun tidak pernah terlintas ingin melakukan hubungan badan dengannya karena dia tetanggaku dan mempunyai suami serta seorang anak, tapi hari ini berbeda sejak aku melihat dia bugil di kamar mandiku, lalu dia keluar dengan memakai handuk saja, membuat aku menjadi bernafsu ingin memasukkan kemaluanku kedalam vaginanya.
Mulutnya memohon padaku untuk menghentikan aksiku, tapi kemaluannya berkata lain karena jariku sudah mulai basah oleh cairan precum-nya. Mengetahui hal itu, tangan kiriku mulai menguakkan bibir vaginanya, sementara aku mulai menarik pantatku, saat kepala kemaluanku tepat berada di bibir vaginanya, aku mulai berusaha menekan masuk kemaluanku kedalam lubang senggamanya, mbak Dillapun mengerang saat merasakan memeknya diterobos oleh kemaluanku.
Bleeeessssss kemaluanku mulai menyelinap masuk kedalam rongga vagina mbak Dilla.
“Heeennn…aaaaarrggghhh jangan Hen aaarrgghhhhh ja ngan ..cabut punyamu sakit aduuuhhh sakiiittt.. Hen breeengseekkk bajing aaaannn kamu..Hendraaaa aaarrggghhh sakiiiitt.. amppuuuuunnn…aaddduuuhhhh…aaampun Hen” mbak Dilla mengaduh kesakitan.
“Tenang mbak tenang nikmatin saja inikan belum semuanya masuk baru sedikit aja kemaluanku masuk kememekmu ini uuugghhh sempit sekali..biarpun sudah pernah keluar kepala bayi tapi masih sempit aja nich memekmu uuuggghhh nanti juga kalau sudah masuk semua, mbak Dilla pasti keenakan dech.” jawabku
Bleeessssss kudorong perlahan pantatku maju sehingga kontolkupun kembali menerobos lubang senggamanya mbak Dilla.
Mbak Dilla berusaha meronta untuk mengeluarkan kontolku dalam jepitan vaginanya, pantatnya dia goyang-goyangkan berusaha agar kontolku keluar, tapi karena posisi tubuhnya yang tertindih oleh tubuhku, dan tidak bisa maju kedepan lagi, sehingga goyangan pantatnya itu malah membuat kontolku semakin masuk lebih dalam di lubang vaginanya itu.
Bleeeeessssss kontolku semakin dalam lagi masuk, mbak Dillapun kembali menjerit kesakitan.
“Aaaaarrggghhhh .Heennn cabut punyamu Hen cabut sakit sekali aaagghhhh punyaku robek sakit Hen.. ampun ampun aduuuhhh aduhhh” jerit mbak Dilla lirih.
Aku bukannya mencabut kontolku itu malah aku semakin menekan kedepan pantatku akibatnya kontolku terbenam seluruhnya di dalam lubang senggama mbak Dilla, Bbbblllleeeeeeeeeessssssssssss mbak Dillapun mengerang lirih,
“Ooouuuuggghhhh .Hen..ampun oouugghhhh punyaku robek Hen perih punyaku aaaagghhh cabut cepat cabut.. Hen cabut punyamu rahimku jebol ooouugghhh Hen kasihani aku.. ampun sudah Hen sudah… Ingat Hen..tolong Hen..ingat aku sudah bersuami.” erang mbak Dilla.
“Heeeehhhh mbak Dilla memekmu berdenyut-denyut nich, tandanya memekmu suka dengan kontolku yang besar dan panjang ini .hehehehe..sudah mbak nikmatin saja kontolku ini mbak, mbakkan belum pernah nyobain kontol panjang dan besar seperti punyaku ini hehehehhe.” kataku merasa puas berhasil memasukkan seluruh batang kontolku dalam vaginanya.
Dengan perlahan-lahan aku mulai menarik keluar kemaluanku sampai batas lehernya kemudian menekankan kembali sampai masuk semuanya, kulakukan terus menerus seperti itu. Kulakukan perlahan keluar-masuk kemaluanku itu. Sesekali kuhujamkan kuat-kuat kontolku itu menerobos masuk di lubang senggamanya membuat mbak Dilla mengaduh, saat kepala kontolku menerjang kuat dinding rahimnya.
“Ooouuggghhhh Hen sudah Hen..aku..ooougghhh sakit perih punyaku Hen ooouugghhhh rahimku oougghh Hen sudah.” mbak Dilla merintih-rintih.
Tubuh mbak Dilla berhenti meronta-ronta, entah karena dia sudah capai karena tidak bisa lepas dari himpitan tubuhku atau karena dia sudah mulai merasa enak aku setubuhi, dan hanya mulutnya saja yang menolak dan meminta aku untuk menyudahi dan mencabut keluar kemaluanku, aku yang sedang merasakan enaknya menyetubuhinya tidak memperdulikan permintaannya, akupun semakin gencar mengeluar-masukkan kemaluanku, tubuhku masih menindih tubuh mbak Dilla, tangan kananku masih didadanya meremas payudaranya, sementara tangan kiriku asyik bermain dengan itilnya mbak Dilla.
“Sssshhhh ooouuggghhhh Hen sudah Hen sudah aku aku u .oouuugghhh ssshhhhh ooouugghhh Hen cabut Hen punyamu cabut Hen..aku ampun Hen.. ooouugghhh .ssshhhh Hen” mbak Dilla mengerang.
Dari suara erangannya kutahu mbak Dilla sudah dapat menikmati jejalan kemaluanku di vaginanya, hanya dia mungkin masih malu untuk mengungkapkan dengan kata-kata, erangannya masih bercampur dengan memintaku untuk menghentikan keluar-masuk kemaluanku, tapi tubuhnya sudah berhenti meronta, dan kurasakan vaginanya sudah sangat basah sekali, walaupun mulutnya tetap terdengar kata penolakan tapi vaginny sudah sangat menikmati sodokan kemluanku, kuciumi kuduk, pundak dan lehernya serta belakang telinganya sambil tetap menyodok-nyodokkan kemaluanku.
“Ooouuugghh Hen..sudah..Hen..gelii jangan ciumin aku oooohh..Hen ooohh..geli ooouugghhh..Hen..sudah Hen sudah aduuuuuhhh aaahhh Hen geli Hen geli.” erang mbak Dilla.
“Hehehehe enak mbak Dilla, enak gak kontolku ini.. hehehehe kalau aku sich enak sekali ngentot mbak Dilla ini, memeknya masih sempit walaupun mbak Dilla sudah punya anak, oooohhh sedap..nikmaatt ooohhh mbak hhhhmmm” kataku lagi ditelinganya sambil menciumi belakang telinganya.
Tiba-tiba kurasakan tubuh mbak Dilla bergetar hebat, dan aku merasakan batang kemaluanku menjadi hangat, kutahu saat ini sedang mencapai orgasmenya, kemaluankupun kutekan dalam-dalam dan kudiamkan, kusengaja memberikan kesempatan kepadanya untuk menikmati puncak orgasmenya, aku tertawa dalam hati merasa berhasil menaklukkan seorang wanita yang sudah bersuami ini, dan berhasil membawanya kepuncak orgasmenya, padahal tadi mbak Dilla menolak dan meronta memohon padaku untuk tidak memperkosanya, tapi sekarang malah dia yang lebih dulu mencapai orgasmenya.
“Hehehehehe enakkan mbak kontolku ini, enakkan dientotku sampai memek mbak muncrat nich, kontolku hangat nich mbak,” kataku menggodanya.
Mbak Dilla tidak mau menjawab godaanku, dia hanya terdiam saja sementara itu kudengar nafasnya tersengal-sengal, dan vaginanya berdenyut-denyut sangat kuat, akupun merasakan enak saat dinding vaginanya berdenyut, batang kontolku seperti diremas-remas saja rasanya. Setelah kurasakan denyutan-denyutan vaginanya melemah, aku mulai kembali menggerakkan kontolku lagi, dengan perlahan kemaluanku kembali keluar masuk di vaginanya yang sudah sangat banjir, gerakan kemaluankupun menjadi lebih mudah dan lancar, tidak terdengar lagi suara mbak Dilla yang memohon padaku untuk menghentikan aksiku dan mencabut keluar kemaluanku dari vaginanya, yang terdengar olehku adalah hanyalah suara nafas mbak Dilla yang memburu.
Tangan kananku beralih kearah depan tubuhnya mbak Dilla, kuraih dan kuremas-remas kedua payudaranya mbak Dilla yang sedang terombang-ambing akibat gerakan maju-mundur pantatku, kudengar mbak Dilla melenguh panjang tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, tangan kanan meremas payudaranya tangan kiriku bermain terus di klitorisnya dan kontolku semakin gencar keluar-masuk di lubang vaginanya.
“Ooohhh..mbak enak..sekali memekmu nich ooohhh enak sempit nikmat rapet ooohhh..mbak .ooohhh..aku pengen tiap hari nich ngentotin mbak ooohhh mbak kontolku enak gak mana enak sama punya suamimu eeehhh ooohhh ooohhh mana besar punyaku atau punya suamimu .ooohhh mbak oooohh mana panjang punyaku atau punya suamimu… Ooooohhh mbak” aku melenguh merasakan nikmatnya kemaluanku dijepit vaginanya.
“Ooooohh..mbak..enak .aku sudah mau keluaaaarrr nich ooohhh mbak. Keluarin di dalam yach ooohh mbak memekmu betul-betul nikmat ooohhh mbak aku keluarin.. di dalam yach .oooohhh” aku melenguh merasakan puncak birahiku yang sebentar lagi akan kucapai.
“Eeeeehhh .jangan Hen jangan ..diluar Hen diluar jangan keluarin di dalamm…” katanya panik.
“Baiiiiikkkk mbak baiiikkk mbaaaakkk .oooohhh memekmu nikmat .aaaahhh aku keluar aaaahhhh,” kataku sambil mencabut kemaluankuku dari jepitan vaginanya.
Creeett creeettt ccreeett crreeettt creeettt . Kemaluanku menyemburkan air mani, air maniku berhamburan di pantat dan punggungnya mbak Dilla.
Mbak Dilla saat itu merasakan hangatnya spermaku yang mengenai pantat dan punggungnya, tetes terakhir air maniku sudah menyemprot keluar, saat itu juga mbak Dilla membalikkan tubuhnya dan tangan kanannya melayang menamparku, aku kaget kena tamparanya itu dan terjatuh dari sofa.
“Jahat..kamu Hen jahat bajingan kamu kamu telah memperkosa aku” mbak Dilla memakiku sambil bangkit dari sofa.
Baru aku sadari bahwa imbuhan kata mas didepan namaku sudah tidak ia pergunakan lagi, aku segera menangkap tangannya yang saat itu hendak menamparku lagi setelah aku berdiri.
“Sudah..mbak sudah maafkan aku aku khilaf mbak.” kataku meminta maaf.
“Heeeehhhh .aku jadi malu aku kotor aku sudah selingkuh ooohhh mas Agus maafkan istrimu aku sudah dinodai.” isaknya.
“Sudah mbak sudah aku minta maaf sekali lagi.” kataku lagi membujuknya sambil memeluk tubuh telanjangnya.
“Maafkan aku mbak tapi terus terang aku terpancing setelah melihat tubuh mbak yang sexy dan montok aku tidak dapat menahan nafsuku lagi,” kataku lagi.
Mbak Dilla diam tidak menjawab perkataanku, isak tangisnya masih kudengar, semakin kupeluk dia dan kuusap-usap rambutnya yang panjang itu, lama-lama isak tangisnya tidak kudengar lagi, tapi dia tidak berusaha melepaskan pelukanku.
“Hen..” katanya
“Ya, mbak.” jawabku
“Hen..maafkan aku yach..tadi aku menamparmu.” katanya lagi.
“Iyach..mbak..gak apa-apa, memang aku berhak mendapatkan tamparan itu,” kataku lagi.
“Aku takut Hen, aku takut suamiku mengetahui kejadian ini,” katanya lagi.
“Sudah mbak, kan suamimu tidak mengetahuinya, buktinya dari tadi dia tidak kelihatan menyusulmu,” kataku menenangkan.
“Heeh tapi aku malu sama suamiku, aku sudah berselingkuh di belakangnya,” katanya lagi.
“Kan tadi mbak tidak berselingkuh, tapi mbak itu aku perkosa,” kembali aku menenangkan.
“Heeh memang aku di perkosa pertamanya, tapi kemudian aku menikmatinya aku jadi malu sama diriku yang terpancing birahi saat di perkosa olehmu tadi,” katanya.
“Yach..itukan bukan mau mbak-kan, yang penting awalnya mbak menolak,” aku berkata menenangkan.
“Iyach tapi gara-gara kamu, maksudku gara-gara punyamu ini, aku tadi sempat orgasme” katanya malu-malu sambil menyolek kemaluanku.
“Eeeehhh..hati-hati mbak jangan dicolek punyaku, kalau nanti dia bangun lagi bagaimana, masa aku harus memperkosa mbak lagi,” seruku kaget karena kemaluanku dicoleknya.
“Yach..kalau bangun nanti aku tidurin dech..hihihihi Hen..kamu mau membantuku nanti kalau kau pengen nyobain lagi punyamu,” katanya.
“Hhaaahhh pasti mbak, pasti aku akan siap meladeni mbak kapanpun mbak mau.” jawabku kaget mendengar kata-katanya barusan.
“Sekarang terpaksa aku harus mandi lagi nich, kalau tidak suamiku bisa melihat ada titik sperma di punggung dan pantatku, aku pinjam kamar mandimu lagi yach Hen,” katanya meminta ijin meminjam kamar mandiku lagi.
“Silahkan, mbak, tapi kalau kita mandi bareng aja gimana,” kataku lagi.
“Tapi jangan macam-macam yach di kamar mandi, soalnya aku takut suamiku menyusulku,” katanya.
“Gak lah, kan macam-macamnya sudah tadi,” jawabku meyakinkan.
Kemudian kamipun mandi bareng, kami saling membersihkan tubuh kami masing-masing, dan saling mengosok-gosok tubuh kami dengan sabun, tak lupa dengan kemaluan-kemaluan kami ikut juga dibersihkan dan digosok dengan sabun mandi, saat tiba giliran mbak Dilla menggosok kemaluanku, dia menggosok-gosok kemaluanku dengan lembut, dan kemaluanku perlahan-lahan bangkit.
“Hihihihi punyamu bergerak tuch mau bangun, aku heran dengan punyamu ini, Hen. Kok bisa sebesar dan sepanjang ini, sepertinya punyamu ini sama panjang dan besar dengan yang difilm-film yach,” katanya sambil masih mengocok-ngocok kemaluanku.
“Sudah ach mbak, nanti punyaku tambah berdiri, pastilah mbak ukurannya sama seperti mereka, eeehh..berarti mbak sering juga yach nonton film begituan,” kataku menghentikan gerakan tangannya yang masih asyik mengocok-ngocok punyaku.
“Heeh.” katanya mengiakan.
Mba Dilla segera membilas tubuhku yang penuh sabun. Setelah mengelap saling mengelap tubuh kami, mandi bersama itu diakhir dengan saling berpelukan. Aku cium bibirnya. Ah masih banyak bagian tubuh mba Dilla yang belum aku nikmati. Aku masih harus sabar menunggunya. Sementara hujan diluar turun dengan lebatnya.
“Mba di luar hujan.” kataku masih dengan memeluknya.
“Iya Hen, aku pulang yah. Takut suamiku menyusul.” jawab mba Dilla, sementara jam dinding menunjuk angka 16.00.
“Mba pakai baju saja. Nanti kalau suamimu nyusul jadi bisa langsug keluar.” kataku, Mba Dilla mengangguk.
Segera dia memakai baju dasternya. Tapi BH dan celana dalamnya tidak. Sementara aku menuju tempat tidur setelah kembali memakai celana boxerku. Mba Dilla menyusulku. Dengan mesra dia berbaring ditubuhku dan memelukku. Ah pasti akan jauh lebih nyaman menyetubuhinya tanpa memaksa.
“Hen, jangan minta lagi ya, punyaku masih terasa perih.” aku mengangguk.
Tubuh mungil montok itu sekarang sudah jadi milikku sepenuhnya. Ah seandainya ke Palembang besok dia bisa menemaniku pasti aku tak perlu stres menghadapi permasalahan kantor cabang. Tapi itu sangat tidak mungkin mestipun aku ceritakan padanya kalau besok aku berangkat ke Palembang. Ketika dia bertanya untuk berapa lama, seperti pertanyaan istriku tadi pagi, ada rasa keberatan dalam nada pertanyaannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s